Izzuddin Azaharuddin

Words From the Heart......

Imam Ahmad dalam Musnadnya meriwayatkan sebuah hadits dari sahabat Fudhalah bin ‘Ubaid radhiallahu ‘anhu. Dia mengatakan bahwasanya rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada para sahabatnya ketika beliau menunaikan Haji Wada’,

ألَا أُخْبِرُكُمْ مَنْ الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ وَالْمُؤْمِنُ مَنْ أَمِنَهُ النَّاسُ عَلَى أَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ الْخَطَايَا وَالذَّنُوبَ وَالْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي طَاعَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Maukah kalian aku beritahukan mengenai pribadi seorang muslim? Seorang muslim adalah pribadi yang kaum muslimin yang lain selamat dari gangguan lisan dan tangannya. Adapun seorang mukmin adalah seorang yang diamanahi (dipercayai) oleh manusia untuk mengelola urusan mereka yang terkait dengan harta dan jiwa mereka. Sedangkan seorang muhajir (orang yang berhijrah) adalah seorang yang berhijrah meninggalkan perbuatan maksiat dan dosa. Adapun mujahid adalah seorang yang berjihad (berusaha menundukkan) jiwanya untuk melakukan ketaatan kepada Allah ‘azza wa jalla.”[1]

Hadits ini merupakan salah satu wasiat yang disampaikan rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya. Di dalamnya terkandung pendidikan kepada umat ini mengenai berbagai istilah dalam agama kita, yaitu istilah islam, iman, hijrah, dan jihad. Hadits ini juga menjelaskan siapakah pribadi yang paling pantas menyandang predikat sebagai seorang muslim, mukmin, muhajir, dan mujahid, karena di dalam hadits ini nabi shallallahu ‘alaihi wa sallammenyebutkan berbagai batasan yang komprehensif bagi keempat predikat tersebut.

Siapa Muslim Itu?

Pertama, nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan predikat seorang muslim. Beliau menyebutkan bahwa seorang muslim adalah pribadi yang tidak pernah menzhalimi kaum muslimin yang lain, baik dengan tangan maupun lisannya. Hal ini dikarenakan keislaman yang hakiki mengandung unsur penyerahan diri kepada Allah, penyempurnaan segala bentuk peribadatan hanya kepada-Nya yang diiringi dengan usaha penunaian berbagai hak kaum muslimin sehingga keislaman seorang tidak akan sempurna sehingga dia suka apabila saudaranya, -yaitu kaum muslimin yang lain- memperoleh sesuatu yang juga disenangi oleh dirinya.

Kecintaan itu tidak akan terwujud kecuali pribadi muslim memiliki lisan dan tangan yang tidak menzhalimi kaum muslimin yang lain. Ini merupakan pondasi yang wajib diperhatikan dan ditunaikan oleh diri kita, karena seorang yang lisan dan tangannya menzhalimi kaum muslimin, maka bagaimana bisa dirinya menunaikan berbagai hak kaum muslimin? Seorang yang senantiasa memberikan toleransi bagi lisan dan tangannya untuk menyakiti kaum muslimin yang lain, bagaimana bisa dirinya merealisasikan keislaman dengan sempurna?

Maka hal ini membawa kita kepada satu kesimpulan bahwa memiliki lisan dan tangan yang bersih dari tindakan kezhaliman terhadap kaum muslimin merupakan alamat (tanda) akan kesempurnaan islam seseorang.

Siapa Mukmin Itu?

Kedua, nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan kriteria seorang mukmin. Beliau menyebutkan bahwa seorang mukmin adalah pribadi yang dipercayai oleh manusia untuk mengelola urusan mereka yang sangat vital, yaitu urusan yang terkait dengan harta dan bahkan jiwa atau darah mereka.

Apabila keimanan telah mengakar dan memenuhi hati seorang, maka ia akan menuntun pemiliknya untuk menegakkan berbagai konsekuensi keimanan dan salah satu konsekuensi keimanan yang terpenting adalah ri’ayatul amanah(menjaga amanah), ash shidqu fil mu’amalaat (jujur dalam berinteraksi sosial) serta al wara’ ‘an zhulminnas fi dimaihim wa amwalihim (ekstra hati-hati dari tindakan menzhalimi manusia terlebih dalam urusan harta dan darah).

Pribadi yang telah dikenal oleh manusia memiliki sifat-sifat yang kami sebutkan tadi, maka tentunya dia akan dipercaya oleh manusia dan mereka menganggapnya sebagai pribadi yang memiliki kredibilitas tinggi sebab mereka mengetahui bahwa dirinya adalah pribadi yang sangat menjaga amanah yang telah diberikan kepadanya. Oleh karenanya dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh imam Ahmad dan Ibnu Hibban, nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa menjaga amanah merupakan salah satu pilar khusus dari keimanan seorang. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا إِيمَانَ لِمَنْ لَا أَمَانَةَ لَهُ

“Tidak sempurna keimanan seorang yang tidak mampu menjaga amanah.”[2]

Siapa Muhajir Itu?

Selanjutnya nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan kriteria seorang muhajir, yakni seorang yang berhijrah. Beliau menyampaikan bahwa seorang muhajir adalah seorang yang berhijrah meninggalkan perbuatan maksiat dan dosa. Hijrah jenis ini hukumnya fardhu ‘ain dan berlaku di setiap kondisi yang dialami oleh setiap muslim, karena Allahta’ala telah mengharamkan para hamba-Nya untuk mengerjakan berbagai bentuk keharaman dan menjerumuskan diri dalam perbuatan maksiat dan dosa. Allah ta’ala justru mewajibkan para hamba-Nya menerima berbagai ketaatan yang diperintahkan oleh Allah untuk dikerjakan dan mengikuti petunjuk rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Oleh karena itu, seorang muhajir yang hakiki adalah seorang yang berhijrah dengan hatinya dari tindakan mencintai selain Allah menuju kecintaan kepada Allah, seorang muhajir adalah seorang yang berhijrah dari segala bentuk peribadatan dan penghambaan kepada selain Allah menuju kepada peribadatan dan penghambaan hanya kepada-Nya, seorang muhajir adalah seorang yang berhijrah dari rasa takut, mengharap dan bertawakkal kepada selain Allah menuju kepada rasa takut, menharap dan tawakkal yang hanya ditujukan kepada-Nya.

Demikian pula, seorang muhajir adalah seorang yang berhijrah dari tindakan berdo’a dan menghinakan diri kepada selain Allah menuju tindakan berdo’a (meminta) dan menghinakan diri hanya kepada-Nya. Berhijrah dari gelapnya maksiat menuju kepada taubat kepada Allah.

Di dalam kitab Shahih al Bukhari, nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ

“Muhajir adalah seorang yang berhijrah meninggalkan segala larangan Allah.”[3]

Maka, Allah ta’ala melarang kita untuk mengerjakan kesyirikan, Allah melarang kita untuk mengikuti hawa nafsu dan Allah melarang kita untuk melakukan berbagai tindak kemaksiatan dan dosa. Maka seorang muhajir yang sejati adalah pribadi yang meninggalkan seluruh bentuk larangan ini dan menghadapkan diri hanya kepada Allah, yaitu mengerjakan ketaatan kepada-Nya dengan ikhlas, mengikuti nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menjauhi segala bentuk dosa dan maksiat.

Siapa Mujahid Itu?

Predikat keempat yang disebutkan oleh nabi adalah predikat seorang mujahid. Beliau memaparkan bahwa mujahid adalah seorang yang berusaha menundukkan jiwanya (hawa nafsunya) untuk senantiasa melaksanakan ketaatan kepada Allah ta’ala. Mengapa demikian? Hal ini dikarenakan jiwa (hawa nafsu) condong untuk malas melakukan berbagai bentuk kebaikan dan senantiasa memerintahkan untuk mengerjakan keburukan dan sering berkeluh-kesah ketika tertimpa musibah. Oleh karena itu, membutuhkan kesabaran dan usaha yang keras agar jiwa mampu konsisten dan kontinu dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah, menjauhi berbagai macam kemaksiatan serta bersabar dari musibah yang menimpa.

Inilah unsur ketaatan, yaitu melaksanakan berbagai perintah Allah, menjauhi berbagai larangan-Nya serta bersabar atas takdir buruk yang ditetapkan-Nya. Maka seorang mujahid sejati adalah seorang yang mendorong jiwanya untuk melaksanakan ketiga hal ini sehingga mampu menunaikan segala bentuk kewajiban yang dibebankan kepadanya.

Imam Ibnul Qayyim dalam Zaadul Ma’ad menyebutkan bahwa terdapat empat tingkatan jihad melawan hawa nafsu yang mesti dilakoni setiap insan.

Pertama, ayyujahidaha ‘ala ta’allumil huda wa dinil haq (berusaha memerangi hawa nafsu agar mau mempelajari agama dengan benar sesuai dengan petunjuk Allah dan rasul-Nya).

Kedua, ayyujahidaha ‘alal ‘amal ba’da ‘ilmihi (berusaha mendorong hawa nafsu untuk mengamalkan kebenaran setelah mengetahuinya), karena jika tidak demikian, maka ilmu tanpa amal, kalaulah tidak merugikan pemiliknya justru akan menjadi tidak bermanfaat. Persis seperti sabda nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مثل العالم الذي يعلم الناس الخير و ينسى نفسه كمثل السراج يضيء للناس و يحرق نفسه

“Permisalan seorang alim yang mengajari kebaikan kepada manusia namun melupakan dirinya (karena tidak mengamalkan ilmunya) adalah seperti lilin yang menerangi manusia namun justru membakar dirinya sendiri.”[4]

Tingkatan ketiga adalah, ayyujahidaha ‘alad da’wati ilaihi wa ta’limihi man laa ya’lamuhu (berusaha mendorong jiwa untuk berdakwah/menyeru manusia kepada kebenaran tersebut dan mendidik orang-orang yang belum mengetahui). Jika tidak, maka pada hakekatnya seorang yang telah mengetahui dan mengamalkan kebenaran, namun enggan mendakwahkannya, maka dia serupa dengan golongan Bani Israil yang menyembunyikan petunjuk dan keterangan dari Allah. Ilmu yang dia miliki tidak bermanfaat dan tidak mampu menyelamatkannya dari adzab Allah.

Tingkatan keempat adalah, ayyujahidaha ‘alash shabri ‘ala masyaqqid da’wah ilallah wa adzal khalq (berusaha mendorong jiwa untuk bersabar di atas jalan dakwah dan bersabar atas gangguan manusia ketika dia berdakwah) dan hendaknya dia menyerahkan semua itu kepada Allah.

Inilah empat tingkatan jihadun nafs (berjihad melawan hawa nafsu) yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim dan selaras dengan sabda nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أفضل الجهاد أن يجاهد الرجل نفسه و هواه

“Jihad yang paling baik adalah seorang yang berjihad melawan hawa nafsunya.”[5]

Apabila kaum muslimin meremehkan hal ini, yaitu jihad melawan hawa nafsunya, maka mereka akan lemah dalam usaha berjihad melawan musuh-musuh mereka, yaitu kaum kafir, sehingga dengan demikian justru kaum kafir itulah yang akan menguasai kaum muslimin.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan,

وحيث ظهر الكفار فإنما ذاك لذنوب المسلمين التي أوجبت نقص إيمانهم ثم إذا تابوا بتكميل إيمانهم نصرهم الله

“Tatkala kaum kafir menang atas kaum muslimin, hal itu dikarenakan dosa-dosa yang dilakukan oleh kaum muslimin sehingga mengurangi kadar keimanan mereka. Apabila mereka bertaubat dengan menyempurnakan keimanan mereka, maka tentulah Allah akan menolong mereka.”[6]

Ikhtitam

Inilah penjelasan hadits yang disampaikan oleh nabi ketika melaksanakan Haji Wada’. Barangsiapa yang mampu melaksanakan seluruh kandungan yang terdapat dalam hadits ini, maka sesungguhnya dirinya telah mampu menegakkan seluruh ajaran agama. Oleh karena itu, salah seorang ulama kontemporer, Syaikh Abdurrahman As Sa’dirahimahullah tatkala menjelaskan hadits ini, beliau mengatakan,

من قام بما دل عليه فقد قام بالدين كله : من سلم المسلمون من لسانه ويده ، وأمنه الناس على دمائهم وأموالهم ، وهجر ما نهى الله عنه ، وجاهد نفسه على طاعة الله ، فإنه لم يبق من الخير الديني والدنيوي الظاهري والباطني شيئا إلا فعله ، ولا من الشر إلا تركه

“Barangsiapa yang memiliki lisan dan tangan yang selamat dari tindak kezhaliman kepada kaum muslimin, kemudian dirinya dipercaya oleh manusia untuk mengelola urusan mereka yang sangat vital, yaitu urusan yang terkait dengan jiwa dan harta mereka, serta berhijrah meninggalkan segala bentuk larangan Allah dan berusaha memerangi hawa nafsunya untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah, maka sesungguhnya tidak ada satupun bentuk kebaikan, baik kebaikan agama maupun dunia, baik secara batin maupun lahiriah, kecuali dilakukannya dan tidak ada satupun keburukan kecuali dia meninggalkannya.”[7]

Waffaqaniyallahu wa iyyakum.

0 comments:

Post a Comment

Izzuddin MD

Izzuddin MD
(^.^)

Izzuddin Azaharuddin

Sesungguhnya aku sedang menasihati kamu, bukanlah bererti akulah yg terbaik dlm kalangan kamu. Bukan juga yg paling soleh dlm kalangan kamu, kerana aku juga pernah melampaui batas utk diri sendiri. Seandainya seseorang itu hanya dapat menyampaikan dakwah apabila dia sempurna, nescaya tidak akan ada pendakwah. Maka akan jadi sikitlah org yg memberi peringatan.."
-Imam Hasan Al-Basri-

Blog Archive