Pemilihan Khalifah sesudah kewafatan Rasulullah s.a.w. Umar r.a berkata kepada Abu Bakar ra., ‘Hulurkanlah tanganmu, aku akan membai’atmu.’ Abu Bakar dengan rendah hatinya pula berkata, ‘Akulah yang akan membai’atmu.’ Umar berkata kembali, ‘Kamu lebih utama dariku.’ Abu Bakar membalas dengan berkata, ‘Tapi kamu lebih kuat dariku.’ Setelah itu Umar dengan bijaksananya berkata, ‘Kekuatanku kupersembahkan untukmu karena keutamaanmu.’ Umar pun terbukti benar-benar menjadikan kekuatannya sebagai pendukung Abu Bakar sebagai khalifah. Abu Bakar UTAMA, Umar KUAT Kelemahan Abu Bakar dibandingkan Umar adalah pada kekuatan, namun, sikap ini sekalipun tidak menghalangi Umar r.a memberi kepercayaan (thiqah) dan taat setianya kepada Abu Bakar. Justeru, kekuatannya digunakan untuk menampung kelemahan Abu Bakar. Buktinya? Tatkala terjadi perselisihan antara Umar dan Abu Bakar tentang menyikapi sikap orang yang tidak mahu mengeluarkan zakat. Sebahagian besar sahabat berpendapat seperti Umar iaitu tidak memerangi mereka, walaubagaimanapun tatkala Umar mengetahui bahwa Abu Bakar berpendirian tegas untuk memerangi mereka, maka Umar mengucapkan kata-katanya yang terkenal, yang menggambarkan ketsiqahan-nya yang sempurna, ‘Demi Allah, tiada lain yang aku pahami kecuali bahwa Allah telah melapangkan dada Abu Bakar untuk memerangi mereka, maka aku tahu bahwa dialah yang benar’ Nah, lihat!, sebuah bukti kethiqahan dan ketaatan. Andai nilai kethiqahan tiada pada diri Umar, maka boleh sahaja dia bersikap keras dengan mengajak sebilangan besar sahabat menyanggahi pandangan Abu Bakar, akibatnya mungkin berlaku perpecahan, satu kelompok Umar dan satu kelompok Abu Bakar. Pesan As syahid Hasan Al Bana rahimahullah Tatkala seorang Al Akh bertanya kepada Hasan Al Bana, ‘siapakah yang layak menggantikan mu seandainya sesuatu terjadi pada dirimu?’. Jawab Hasan Al Bana, ‘ Angkatlah menjadi pemimpin orang yang paling lemah di antara kalian. Kemudian dengarlah dan taatilah dia. Dengan (bantuan) kalian, ia akan menjadi orang yang paling kuat di antara kalian.’.(rujukan Muhammad Abdullah Al-Khatib, Nadharat fi Risalatil Ta’lim) Maksudnya, bukanlah menjadi syarat bahawa pemimpin yang berhak mendapat thiqah adalah pemimpin yang fully perfect, seseorang berkobelahan tinggi ada PhD, dalam masa yang sama juga dialah yang paling kuat, dalam masa yang sama juga dialah paling bertakwa, paling mengerti, dan paling fasih dalam berbicara. Wah, syarat seperti ini sangat sulit dipenuhi, bahkan hampir tidak terpenuhi sepeninggal Rasulullah saw. Cukuplah seorang pemimpin itu, seseorang yang dianggap mampu oleh saudara-saudaranya untuk memikul amanah kepemimpinan yang berat ini. Kemudian apabila ada Akh yang merasa bahawa dirinya atau mengetahui orang lain memiliki kemampuan dan bakat yang tidak dimiliki oleh pimpinannya, maka hendaklah dia MENDERMAKAN kemampuan dan bakat tersebut untuk dipergunakan oleh pimpinan untuk membantu tugas-tugas kepemimpinannya bukan menjadi PESAING bagi pimpinan dan jamaahnya (maaf kalau isu ini sensitif untuk sebahagian orang) Thiqah yang dikendaki adalah thiqah timbal balik (Thiqah Mutabadilah) Terkadang saya melihat pimpinan sebuah jemaah memaksa pengikutnya untuk thiqah, TETAPI dalam masa yang sama, hasil kerja pengikutnya sering dicurigai. Apa!, 2 halaqah ja kat sekolah, depa ni buat kerja ke tidak?! Apa!, program tak dapat sambutan, takkan itu pun tak reti rancang?! Apa!, tak jadi?!, check balik depa ni, mesti tak buat kerja, main ja! Demikian antara contoh contoh kenyataan pimpinan yang mencurigai anak buah. Thiqah yang bagaimana yang dikehendaki ? Thiqah timbal balik. Ya, pengikut memberi kepercayaan kepada pimpinan dan dalam masa yang sama pimpinan juga memberi kepercayaan kepada pengikut untuk menjalankan tugas. Oleh karena itulah, maka Imam Asy-Syahid menekankan rukun tsiqah dalam Risalah At-Ta’alim dan menjadikannya sebagai salah satu rukun bai’at. Imam Asy-Syahid juga menjelaskan kepentinga rukun ini dalam menjaga kestabilan dan kesatuan jamaah, Beliau mengatakan: “…Tidak ada dakwah tanpa kepemimpinan. Kadar tsiqah yang timbal balik (THIQAH MUTABADILAH) ,antara pimpinan dan yang dipimpin menjadi penentu bagi sejauh mana kekuatan sistem jamaah, kemantapan langkah-langkahnya, keberhasilan dalam mewujudkan tujuan-tujuannya, dan kemampuannya dalam mengatasi berbagai tantangan dan kesulitan. Pengikut harus sentiasa thiqah dengan kepimpinan. Musuh musuh Islam sentiasa berusaha agar nilai thiqah hilang dalam dada orang beriman. Apabila thiqah hilang, ketaatan akan berkurang, apabila seorang pemimpn tidak ditaati, maka sesebuah jamaah tidak ada ertinya lagi. Apabila seorang aktivis dakwah (pengikut maupun pimpinan) mendengar sesuatu atau ragu-ragu tentang sesuatu, maka jangan dibiarkan berlarut. Tetapi harus segera tabayun (re-check) terhadap hakikat yang sebenarnya, sehingga dadanya tetap bersih dari buruk sangka dan ke-tsiqah-annya tetap terjaga. Dengan demikian ia telah memenuhi seruan Allah swt. terhadap hamba-hamba-Nya yang beriman: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. (Al-Hujarat:6) Sudahkah thiqah membajai jiwa anda? Adakah anda thiqah dengan sempurna pada pimpinan maupun anak buah anda. Ada beberapa persoalan yang digariskan oleh Hasan Al Bana untuk anda mengukur thiqah dalam diri Cubalah anda jawab persoalan diatas, dan jawab persoalan dibawah melalui hati anda Sudahkah anda thiqah pada pimpinan dan ‘amanah’ anda? Wallahua’lam 
Posted by
Izzuddin MD
0 comments:
Post a Comment